Sejarah SMAS Setia Budi Sungailiat: Dari Sekolah Tionghoa ke Sekolah Berprestasi

 

Awal Mula: Pendidikan di Sungailiat Tahun 1975

Pada tahun 1975, Sungailiat hanya memiliki sedikit sekolah menengah atas swasta. Salah satunya adalah sekolah yang dikenal dengan nama SMA Pak Yan, yang kala itu menempati gedung Yayasan Pendidikan Lembaga Nasional Setia Budi. Nama Pak Yan sendiri berasal dari wakil kepala sekolah yang saat itu memimpin, sedangkan kepala sekolah resminya adalah Ir. Sugiarto, seorang pejabat bengkel listrik PN Timah.

Namun, SMA Pak Yan memiliki keterbatasan dalam penyelenggaraan pendidikan. Proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) dilakukan pada sore hingga malam hari karena sebagian besar guru merupakan karyawan PN Timah yang hanya bisa mengajar setelah jam kerja. Hal ini menjadi tantangan bagi siswa yang berasal dari luar kota Sungailiat, mengingat alat transportasi masih sangat terbatas pada malam hari.

Situasi ini mengetuk hati para tokoh pendidikan dan masyarakat untuk mencari solusi. Pada saat itu, belum ada SMA negeri di Sungailiat, sehingga kebutuhan akan sekolah yang lebih baik dan terstruktur menjadi semakin mendesak. Sekolah yang ada, seperti Sekolah Teknik Menengah (STM) di Loek A Thjin dan SMA dekat asrama polisi (dulu disebut tangsi polisi), hanya dapat melaksanakan pembelajaran di sore hari.

Perubahan dari Sekolah Tionghoa ke Sekolah Umum

Sebelum dikenal sebagai SMAS Setia Budi, sekolah ini awalnya adalah sekolah yang didirikan oleh komunitas Tionghoa di Sungailiat. Sekolah ini berdiri untuk memenuhi kebutuhan pendidikan bagi masyarakat keturunan Tionghoa di Bangka.

Namun, seiring dengan kebijakan pemerintah dan semangat inklusivitas dalam pendidikan, sekolah ini mengalami transformasi besar. Dari yang awalnya hanya melayani komunitas tertentu, sekolah ini berkembang menjadi sekolah umum yang terbuka bagi semua kalangan, tanpa memandang etnis maupun latar belakang sosial. Perubahan ini menjadi tonggak sejarah penting dalam perjalanan pendidikan di Sungailiat, karena semakin banyak anak-anak dari berbagai suku dan budaya yang mendapatkan akses pendidikan berkualitas.

Resmi Berdiri sebagai SMAS Setia Budi

Melihat kondisi pendidikan yang belum optimal, pemerintah daerah akhirnya mengambil langkah serius. Dengan keluarnya Surat Keputusan Bupati Daerah TK II Bangka Nomor 253/KPTS/VI/1975, SMA Swasta Yayasan Pendidikan Lembaga Nasional Setia Budi resmi didirikan pada 22 Agustus 1975. Keputusan ini ditandatangani langsung oleh Bupati Bangka dan disahkan oleh Sekretaris Wilayah Bangka, Drs. Zaini Anwar.

Sejak saat itu, sekolah ini mulai berkembang pesat dan terus berkontribusi dalam mencetak generasi muda yang cerdas dan berdaya saing.

Identitas Khas: Celana Hijau SMAS Setia Budi

Salah satu ciri khas SMAS Setia Budi yang paling terkenal adalah seragam siswa laki-lakinya yang menggunakan celana hijau. Warna hijau ini bukan dipilih secara sembarangan. Ada beberapa alasan historis dan filosofis di balik pemilihannya:

  1. Melambangkan Harapan dan Keberlanjutan – Warna hijau sering dikaitkan dengan pertumbuhan, harapan, dan keberlanjutan, sesuai dengan visi sekolah dalam mendidik generasi penerus bangsa.

  2. Konsistensi dan Kedisiplinan – Pemakaian celana hijau sejak awal berdirinya sekolah menjadi simbol kedisiplinan dan kesetiaan terhadap nilai-nilai yang ditanamkan di sekolah.

  3. Identitas yang Kuat – Hingga kini, seragam khas ini tetap dipertahankan dan menjadi kebanggaan bagi setiap siswa dan alumnus SMAS Setia Budi.

Menjadi Sekolah Adiwiyata: Peduli Lingkungan dan Masa Depan

Dalam perjalanannya, SMAS Setia Budi tidak hanya dikenal sebagai sekolah dengan sistem pendidikan yang berkualitas, tetapi juga sebagai Sekolah Adiwiyata. Gelar ini diberikan kepada sekolah-sekolah yang memiliki komitmen tinggi terhadap pendidikan lingkungan hidup.

Beberapa program unggulan dalam rangka menjaga lingkungan di SMAS Setia Budi antara lain:

  • Pengelolaan sampah yang baik, termasuk program daur ulang dan pemilahan sampah.

  • Penghijauan lingkungan sekolah dengan banyaknya pohon dan taman yang membuat suasana belajar lebih nyaman.

  • Efisiensi energi melalui penggunaan sumber daya yang ramah lingkungan.

Melalui berbagai program ini, SMAS Setia Budi tidak hanya mencetak siswa yang cerdas, tetapi juga peduli terhadap kelestarian lingkungan.

Daftar Kepala Sekolah dari Masa ke Masa

Sejak berdirinya, SMAS Setia Budi telah dipimpin oleh beberapa kepala sekolah yang terus berkontribusi dalam mengembangkan sekolah ini:

  1. Soeparno, B.A. (1975 - 1985)

  2. Drs. Soetikno (1985 - 1993)

  3. Drs. Sumartono Koosnan (1993 - 1998)

  4. Drs. Soetikno (1998 - 2001)

  5. Fadhilah Imam, S.E., M.A.P. (2001 - 2017)

  6. Ujang Risman, S.H. (2017 - 2019)

  7. Wandi Wardoyo, S.Pd. (2019 - 2023)

  8. Johan, S.E. (2023 - sekarang)

Alumni Berprestasi: Membanggakan Bangka di Kancah Nasional

Sejak berdiri lebih dari empat dekade, SMAS Setia Budi telah melahirkan ribuan alumni yang tersebar di berbagai profesi dan prestasi. Beberapa di antaranya adalah:

  • Prof. Bambang Purwanto, Guru Besar Sejarah UGM

  • Prof. Fredi Zein, Guru Besar Teknik Nuklir ITB

  • Prof. Fransika Lani, dan banyak lainnya yang telah berkontribusi di berbagai bidang ilmu dan industri.

Masa Depan SMAS Setia Budi: Inovasi dan Kemajuan Berkelanjutan

Dengan segala pencapaiannya, SMAS Setia Budi terus berkembang dengan berbagai inovasi pendidikan. Fasilitas yang semakin modern, tenaga pengajar yang kompeten, serta kurikulum yang adaptif menjadikan sekolah ini tetap relevan dan unggul dalam dunia pendidikan di Bangka.

Komitmen untuk terus memberikan pendidikan berkualitas, mendidik siswa dengan karakter yang kuat, serta berkontribusi terhadap lingkungan menjadikan SMAS Setia Budi sebagai salah satu sekolah swasta terbaik di wilayah ini.


(Dikutip dari buku "Jejak Langkah Perguruan Setia Budi", Fadhilah Imam)

Komentar